+ -

Pages

Sabtu, 29 Oktober 2016

Kembalinya Orba: Membakar Buku

Menyambut Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei setiap tahunnya, banyak dari perusahaan percetakan dan insan-insan penggiat literasi mengadakan kegiatan untuk mempublikasikan juga bersosialisasi terhadap masyarakat akan manfaat dan pentingnya membaca.
Tapi yang sangat disayangkan, belakangan ini terjadi pemberangusan buku serta diskusi publik berlabel komunisme, atau buku yang terdapat unsur PKI di dalamnya, bahkan buku yang sampul depannya foto anggota band asal Jerman menggunakan baju lambang palu arit dengan alasan mencegah kebangkitan komunisme dan PKI oleh militer dengan bantuan massa yang semakin marak dan membabi buta.

Keresahan sentimental latah akan isu bangkitnya komunisme ini menyebarkan teror kepada halayak, terutama kaum awam yang sejak dahulu didoktrin untuk benci terhadap komunis, PKI, bahkan keturunannya lewat film G30S PKI dimana PKI sebagai oknum penghancur NKRI. Hingga akhirnya paham komunis, warga yang dituduh sebagai anggota dan simpatisan PKI, bahkan seorang petani yang tidak tahu menahu persoal politik ala marxisme tersebut ikut menjadi korban tragedi pembunuhan masal pada tahun 1965-1966.

Setelah 1965 komunisme dan PKI adalah haram untuk Indonesia, segala sesuatu berbau PKI dicabut hingga akarnya. Tetapi fakta bahwa pembunuhan masal yang melibatkan warga sipil ditutup-tutupi, bahkan ‘kisah yang hilang’ itu tidak terdapat dibuku sejarah sekolah.
Pada era Orde Baru, golongan ‘kiri’ dan penganutnya dibumi hanguskan. Hal tersebut terbukti dari banyaknya kasus kemanusiaan yang direnggut haknya, dibungkam suaranya, melewati berbagai macam penyiksaan hingga akhirnya dibunuh dan dibuang jasadnya. Kita masih ingat Marsinah seorang aktivis buruh,yang hingga kini kasusnya ditutup-tutupi dan sengaja dilupakan untuk kepentingan para oknum perauk keuntungan agar tidak merugi.

Adapula kasus pelarangan buku, salah satunya buku berujudul “Hoa Kiau di Indonesia” karya Pramoedya Ananta Toer. Masih banyak kasus serupa, tragedi tersebut terjadi ketika era pimpinan Presiden Soeharto dengan membuat militer berkuasa di Indonesia dan sebagai senjata ancaman untuk menakuti rakyat.

Pada akhir masa jabatan, Soeharto diturunkan paksa dari tahtanya oleh gabungan demonstran dari mahasiswa dan aktivis masyarakat. Perang di negara sendiri tersebut berakhir tragis dengan gugurnya beberapa aktivis dan mahasiswa yang menyuarakan kebenaran oleh militer antek- antek Soeharto.
Namun hingga kini sisa-sisa aparatur Orde Baru masih berlenggang leluasa dalam dunia politik Indonesia. Salah satu imbasnya mereka melanjutkan landasan bagi kebijakan pelarangan terhadap hampir seluruh buku-buku dari golongan kiri yang marak belakangan ini. Librisida yang berarti pembunuhan terhadap buku terjadi.

Pelarangan dan pembakaran buku merupakan lelucon berupa penyangkalan janggal atas karya paling berharga umat manusia, ilmu dalam buku yang setiap lembarnya membuka jendela dunia.
Karya manusia atas buah pikirnya tidak dihargai dan ditiadakan dengan sikap intoleransi untuk kepentingan mempertahankan sebuah versi kebenaran palsu politik negeri ini.
5 RE-KREASI: Kembalinya Orba: Membakar Buku Menyambut Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei setiap tahunnya, banyak dari perusahaan percetakan dan insan-insan peng...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

< >