Menyambut Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei
setiap tahunnya, banyak dari perusahaan percetakan dan insan-insan penggiat
literasi mengadakan kegiatan untuk mempublikasikan juga bersosialisasi terhadap
masyarakat akan manfaat dan pentingnya membaca.
Tapi yang sangat disayangkan, belakangan ini terjadi pemberangusan buku
serta diskusi publik berlabel komunisme, atau buku yang terdapat unsur PKI di
dalamnya, bahkan buku yang sampul depannya foto anggota band asal Jerman
menggunakan baju lambang palu arit dengan alasan mencegah kebangkitan komunisme
dan PKI oleh militer dengan bantuan massa yang semakin marak dan membabi buta.
Keresahan sentimental latah akan isu bangkitnya komunisme ini
menyebarkan teror kepada halayak, terutama kaum awam yang sejak dahulu
didoktrin untuk benci terhadap komunis, PKI, bahkan keturunannya lewat film
G30S PKI dimana PKI sebagai oknum penghancur NKRI. Hingga akhirnya paham
komunis, warga yang dituduh sebagai anggota dan simpatisan PKI, bahkan seorang
petani yang tidak tahu menahu persoal politik ala marxisme tersebut ikut
menjadi korban tragedi pembunuhan masal pada tahun 1965-1966.
Setelah 1965 komunisme dan PKI adalah haram untuk Indonesia, segala
sesuatu berbau PKI dicabut hingga akarnya. Tetapi fakta bahwa pembunuhan masal
yang melibatkan warga sipil ditutup-tutupi, bahkan ‘kisah yang hilang’ itu
tidak terdapat dibuku sejarah sekolah.
Pada era Orde Baru, golongan ‘kiri’ dan penganutnya dibumi hanguskan. Hal
tersebut terbukti dari banyaknya kasus kemanusiaan yang direnggut haknya,
dibungkam suaranya, melewati berbagai macam penyiksaan hingga akhirnya dibunuh
dan dibuang jasadnya. Kita masih ingat Marsinah seorang aktivis buruh,yang hingga
kini kasusnya ditutup-tutupi dan sengaja dilupakan untuk kepentingan para oknum
perauk keuntungan agar tidak merugi.
Adapula kasus pelarangan buku, salah satunya buku berujudul “Hoa Kiau di
Indonesia” karya Pramoedya Ananta Toer. Masih banyak kasus serupa, tragedi tersebut
terjadi ketika era pimpinan Presiden Soeharto dengan membuat militer berkuasa
di Indonesia dan sebagai senjata ancaman untuk menakuti rakyat.
Pada akhir masa jabatan, Soeharto diturunkan paksa dari tahtanya oleh
gabungan demonstran dari mahasiswa dan aktivis masyarakat. Perang di negara
sendiri tersebut berakhir tragis dengan gugurnya beberapa aktivis dan mahasiswa
yang menyuarakan kebenaran oleh militer antek- antek Soeharto.
Namun hingga kini sisa-sisa aparatur Orde Baru masih berlenggang leluasa
dalam dunia politik Indonesia. Salah satu imbasnya mereka melanjutkan landasan
bagi kebijakan pelarangan terhadap hampir seluruh buku-buku dari golongan kiri
yang marak belakangan ini. Librisida yang berarti pembunuhan terhadap buku
terjadi.
Pelarangan dan pembakaran buku merupakan lelucon berupa penyangkalan
janggal atas karya paling berharga umat manusia, ilmu dalam buku yang setiap
lembarnya membuka jendela dunia.
Karya manusia atas buah pikirnya tidak dihargai
dan ditiadakan dengan sikap intoleransi untuk kepentingan mempertahankan sebuah
versi kebenaran palsu politik negeri ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar